10 Oktober selepas piket malam di kebon sirih 12 lt 12, Kembali kita menggunakan jalur kendaraan sepeda motor sebagai sarana transportasi untuk mudik lebaran tahun ini. Semula saya sudah merencanakan dengan menggunakan motor V.IXION dari Yamaha sekaligus untuk test drive ke klaten, tetapi apa daya harus indent sampai masa yang tidak ditentukan sehingga rencana batal.
Rencana awal adalah kita akan menggunakan jalur Cikampek- Purwakarta -Subang -Palimanan -Cirebon sebagai jalur alternatif dari Cikampek-Indramayu-Cirebon.
Jalur alternatif kedua yang akan kita lewati adalah Tegal-Purwokerto-Banyumas-Purworejo -Jogja-Klaten sebagai jalur alternatif Pantura-Semarang-Solotigo-Boyolali-Klaten.
pkl 5.15 langsung berangkat keluar kantor dan melewati pulo gadung, tembus-tembus di Bekasi di Mitra keluarga Bekasi Timur. Disini kita dihadang oleh kemcetan panjang yang luar biasa.
Lolos dari jebakan kemcetan kita terus lurus menyusuri bantaran sungai Kalimalang sampai ujung, baru steleh itu belok kiri. sambil mencoba melewati jalur yang tidak biasa. Lewat jalur alternative melalui Purwakarta-subang-kadipaten-cirebon.
Pkl. 7.45 kita smapai pertigaan Cikampek, kalao ke kanan ke arah pintu jalan tol Cikampek-Jakarta, kalau kiri ke arah Cirebon. Kita ambil jalur ke kanan. Jalur ini belum pernah aku lewati, selain kalau naik bis dari jawa lewat jalur alternatif. Pada saat masuk ke arah purwakarta dari cikampek, jalan bener nikmat, jalan luas, jalan halus, mungkin karena sisa-sisa jalan kebesaran bandung jakarta, sehingga kondisi jalan memang sangat bagus. Sesampai ke simpang menuju Subang jalan juga sangat bagus sampai kemudian di subang. Arus mudik memang kelihatan sangat sepi. Kondisi jalan juga naik-turun. Dan ini sangat cocok bagi anda yang suka bertualang dan menikmati tikungan-tikungan jalan. Tapi hati-hati kalau tiba-tiba ada mobil nongol di depan kita.
Pkl 9.aa, Sampai kemudian kita sampai ke perkebunan PTPN lupa namanya, yang mengelola kebon karet. Disini memang suasana sangat nyaman dan jalan justru membuat ngantuk. Istirahat sebentar di kebon karet tersebut sambil makan pop mie, maklum sepanjang perjalanan perut terasa lapar karena hawa dingin daerah subang. Pkl 9.45 kita berangkat lagi.
10.30 istirahat lagi di Islamic centre Subang
Tetapi sesampai di kalijati ke arah cijelang, jalan minta ampun bergelombang dan pemandangan juga sangat tandus. Disana –sini nampak rumput-rumput kering dan bekas lahan yang dibakar. Sehingga suasana nampak terasa panas.
Kemudian setelah pukul 12.30 menit, saya sampai ke daerah Palimanan dan beristirahat disebuah masjid di pinggir kiri jalan. Dan tidur sampai pkl 13.30 sambil menunggu matahari sudah tergelincir sehingga tidak terasa panas-panasnya.
Pkl. 14.00, saya sudah sampai di Ciarebon dan kembali beristirahat dengan mampir makan di empal gentong di pinggir jalan. Lokasi saya makan sudah lumyan jauh di luar kota cirebon, tetapi daerahnya aku tidak hapal. Baru pertama kali saya merasakan salah satu masakan khas orang cirebon ini. Lumayan juga rasanya mirip dengan opor jeroan sapi ( atau memang itu intinya ya....).
Selepas makan empal gentong perjalanan dilanjutkan kembali dan tidak seberapa lama kita langsung dihadang oleh kemacetan di daerah cirebon sampai ke daerah Brebes, lumayan juga panjangnya kemacetan tersebut, tetapi lumayan walaupun macet kita masih bisa bergerak di sela-sela badan kendaraan-kendaraan besar.
Sesampai di pekalongan pukul 18.00 dan akhirnya aku putuskan untuk beristirahat di tempat penginapan di jalan hayamwuruk dan hotelnyapun bernama hotel hayam wuruk. Di hotel itu ada beberapa tarif kamar, diantaranya untuk standard Rp 85.000, ada kipas angin dan TV. Kamar mandi air biasa, dan keadaan kamarnya kurang bagus, banyak terdapat sarang laba-laba di atas kamar mandi, pertanda sudah lama tidak dilakukan pengecekan kebersihan.
Di dekat penginapan ada Masjid Agung Pekalongan, dan ditempat itiulah saya mencari makan malam dan aku mendapatkan lontong opor ayam kampung. Tempatnya di sisi-sisi alun-alun. Banyak penjual makanan di sana dan kita bisa pilih sendiri yang mana kita suka. Lumayan enak juga lontong opor-nya, dan harganyapun tidak mahal, untuk 1 porsi berikut teh manis manis hanya seharga Rp 8.000 saja.
Pagi aharinya saya sambil mencari-cari sarapan yang ada di pekaloangan kita berjalan-jalan dengan menggunakan sepeda motor. Lumayan lama juga kita mencari sebelum pada akhirnya terpaksa menyerah dan mendapatkan asal sarapan di pinggir jalan dengan menu sepertinya sisa makanan yang tidak habis tadi malam, dan harganyapun tidak mahal, Cuma Rp 6.500,00 berikut teh manis juga. Tidak apa-apa yang penting perut tidak kosong dalam perjalan pulang menuju klaten. Apalagi saatini adalah akhir-akhir bulan puasa, jadi sangat di maklumi jika memang tidak ada persediaan untukl sarapan pagi dari warga pekalongan. Tetapi sebenarnya banyak juga yang buka untuk sarapan pagi bagi mereka yang tidak berpuasa, khususnya yang dijual oleh pedagang dari etnis cina yangbiasanya memang bukan beragama islam.
Pukul 09.00 perjalanan pagi dilanjuutkan melewati Batang dan melewati alas roban yang sekarang tidak seangker jaman dahulu yang terkenal rawan, tetapi tidak tahu juga apakah akalau malam hari sekarang masih sangat angker seperti jaman dahulu yang jelas suasana di pasar roban sekarang jauh lebih nyaman.
Sampai kemudian ada jalan pertigaan setelah alas roban ada jalan alternatif untuk menuju Semarang melalui Weleri, nah saya melewati jalur itu karena saya belum pernah melalui jalan tersebut. Jalan turunnya lumayan curam sehingga kita harus berhati-hati untuk melalui jalur altenatid ini pada awal-awalanya, apalagi jalan dibuat dari beton cor yang sudah mulai licin disana-sini tergerus oleh perputaran roda berputar. Jadi disini harus waspada, jangan menyepelekan kondisi jalan. Setelah mellalui jalan yang berliku-liku kita akan emndapat sebuah kota kecamatan yang lumayan ramai, Weleri, dan setelah itu ada pertigaan menuju Parakan dan Temannggung.
Rencana awal adalah kita akan menggunakan jalur Cikampek- Purwakarta -Subang -Palimanan -Cirebon sebagai jalur alternatif dari Cikampek-Indramayu-Cirebon.
Jalur alternatif kedua yang akan kita lewati adalah Tegal-Purwokerto-Banyumas-Purworejo -Jogja-Klaten sebagai jalur alternatif Pantura-Semarang-Solotigo-Boyolali-Klaten.
pkl 5.15 langsung berangkat keluar kantor dan melewati pulo gadung, tembus-tembus di Bekasi di Mitra keluarga Bekasi Timur. Disini kita dihadang oleh kemcetan panjang yang luar biasa.
Lolos dari jebakan kemcetan kita terus lurus menyusuri bantaran sungai Kalimalang sampai ujung, baru steleh itu belok kiri. sambil mencoba melewati jalur yang tidak biasa. Lewat jalur alternative melalui Purwakarta-subang-kadipaten-cirebon.
Pkl. 7.45 kita smapai pertigaan Cikampek, kalao ke kanan ke arah pintu jalan tol Cikampek-Jakarta, kalau kiri ke arah Cirebon. Kita ambil jalur ke kanan. Jalur ini belum pernah aku lewati, selain kalau naik bis dari jawa lewat jalur alternatif. Pada saat masuk ke arah purwakarta dari cikampek, jalan bener nikmat, jalan luas, jalan halus, mungkin karena sisa-sisa jalan kebesaran bandung jakarta, sehingga kondisi jalan memang sangat bagus. Sesampai ke simpang menuju Subang jalan juga sangat bagus sampai kemudian di subang. Arus mudik memang kelihatan sangat sepi. Kondisi jalan juga naik-turun. Dan ini sangat cocok bagi anda yang suka bertualang dan menikmati tikungan-tikungan jalan. Tapi hati-hati kalau tiba-tiba ada mobil nongol di depan kita.
Pkl 9.aa, Sampai kemudian kita sampai ke perkebunan PTPN lupa namanya, yang mengelola kebon karet. Disini memang suasana sangat nyaman dan jalan justru membuat ngantuk. Istirahat sebentar di kebon karet tersebut sambil makan pop mie, maklum sepanjang perjalanan perut terasa lapar karena hawa dingin daerah subang. Pkl 9.45 kita berangkat lagi.
10.30 istirahat lagi di Islamic centre Subang
Tetapi sesampai di kalijati ke arah cijelang, jalan minta ampun bergelombang dan pemandangan juga sangat tandus. Disana –sini nampak rumput-rumput kering dan bekas lahan yang dibakar. Sehingga suasana nampak terasa panas.
Kemudian setelah pukul 12.30 menit, saya sampai ke daerah Palimanan dan beristirahat disebuah masjid di pinggir kiri jalan. Dan tidur sampai pkl 13.30 sambil menunggu matahari sudah tergelincir sehingga tidak terasa panas-panasnya.
Pkl. 14.00, saya sudah sampai di Ciarebon dan kembali beristirahat dengan mampir makan di empal gentong di pinggir jalan. Lokasi saya makan sudah lumyan jauh di luar kota cirebon, tetapi daerahnya aku tidak hapal. Baru pertama kali saya merasakan salah satu masakan khas orang cirebon ini. Lumayan juga rasanya mirip dengan opor jeroan sapi ( atau memang itu intinya ya....).
Selepas makan empal gentong perjalanan dilanjutkan kembali dan tidak seberapa lama kita langsung dihadang oleh kemacetan di daerah cirebon sampai ke daerah Brebes, lumayan juga panjangnya kemacetan tersebut, tetapi lumayan walaupun macet kita masih bisa bergerak di sela-sela badan kendaraan-kendaraan besar.
Sesampai di pekalongan pukul 18.00 dan akhirnya aku putuskan untuk beristirahat di tempat penginapan di jalan hayamwuruk dan hotelnyapun bernama hotel hayam wuruk. Di hotel itu ada beberapa tarif kamar, diantaranya untuk standard Rp 85.000, ada kipas angin dan TV. Kamar mandi air biasa, dan keadaan kamarnya kurang bagus, banyak terdapat sarang laba-laba di atas kamar mandi, pertanda sudah lama tidak dilakukan pengecekan kebersihan.
Di dekat penginapan ada Masjid Agung Pekalongan, dan ditempat itiulah saya mencari makan malam dan aku mendapatkan lontong opor ayam kampung. Tempatnya di sisi-sisi alun-alun. Banyak penjual makanan di sana dan kita bisa pilih sendiri yang mana kita suka. Lumayan enak juga lontong opor-nya, dan harganyapun tidak mahal, untuk 1 porsi berikut teh manis manis hanya seharga Rp 8.000 saja.
Pagi aharinya saya sambil mencari-cari sarapan yang ada di pekaloangan kita berjalan-jalan dengan menggunakan sepeda motor. Lumayan lama juga kita mencari sebelum pada akhirnya terpaksa menyerah dan mendapatkan asal sarapan di pinggir jalan dengan menu sepertinya sisa makanan yang tidak habis tadi malam, dan harganyapun tidak mahal, Cuma Rp 6.500,00 berikut teh manis juga. Tidak apa-apa yang penting perut tidak kosong dalam perjalan pulang menuju klaten. Apalagi saatini adalah akhir-akhir bulan puasa, jadi sangat di maklumi jika memang tidak ada persediaan untukl sarapan pagi dari warga pekalongan. Tetapi sebenarnya banyak juga yang buka untuk sarapan pagi bagi mereka yang tidak berpuasa, khususnya yang dijual oleh pedagang dari etnis cina yangbiasanya memang bukan beragama islam.
Pukul 09.00 perjalanan pagi dilanjuutkan melewati Batang dan melewati alas roban yang sekarang tidak seangker jaman dahulu yang terkenal rawan, tetapi tidak tahu juga apakah akalau malam hari sekarang masih sangat angker seperti jaman dahulu yang jelas suasana di pasar roban sekarang jauh lebih nyaman.
Sampai kemudian ada jalan pertigaan setelah alas roban ada jalan alternatif untuk menuju Semarang melalui Weleri, nah saya melewati jalur itu karena saya belum pernah melalui jalan tersebut. Jalan turunnya lumayan curam sehingga kita harus berhati-hati untuk melalui jalur altenatid ini pada awal-awalanya, apalagi jalan dibuat dari beton cor yang sudah mulai licin disana-sini tergerus oleh perputaran roda berputar. Jadi disini harus waspada, jangan menyepelekan kondisi jalan. Setelah mellalui jalan yang berliku-liku kita akan emndapat sebuah kota kecamatan yang lumayan ramai, Weleri, dan setelah itu ada pertigaan menuju Parakan dan Temannggung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar