Kamis, 04 Oktober 2007

Mana SEKARwati

"Mana SEKARwati ?"
Pertanyaan itu dilontarkan oleh pak Basuki Iskandar, waktu kita bertatap muka dgn BRTI membahas masalah kode akses SLJJ, antara Ditjen Postel yang juga ketua BRTI dengan SEKAR Telkom. waktu itu pak basuki memberi sambutan dan mengatakan, "Bapak-bapak dan ....... " mana Wanitanya kok gak ada ?"
"Mana SEKARwati ? " Pak Basuki mengulangi pertanyaan, setelah diberitahu Istilah SEKAR untuk anggota Wanita. Ditambahkannya, "kalau ada wanitanya khan tidak gersang dan ada kesejukan ". Wanita itu ibarat batu es yang mendinginkan suasana.
Di Dunia politik, termasuk dalam hal ini SErikat Karyawan, elemen wanita merupakan elemen yang minoritas dan hanya sebagai pelengkap dari organisiasi saja.. Peran yang dimainkan oleh wanita memang ada, tetapi menyangkut hal-hal kurang penting dalam dalam artian tidak mampu mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh organisasi.
Bahkan sebagai penguruspun wanita hanya sebagai pelengkap penderita, bukan mengurus masalah organisasi, tetapi lebih banyak mengurus masalah konsumsi bila hajatan rapat kerja berlaku.
Sebenarnya dengan banyaknya pegawai wanita yang ada pada perusahaan peran wanita sangat diperlukan, agar keputusan kebijakan dalam perusahaan tidak gender sentris dalam hal ini laki-laki sentris. Peran wanita dalam meperjuangkan kepentingannya sangat di perlukan sekali. terutama menyangkut masalah kesetaraan berkarier, kesehatan reproduksi, dan kenyamanan kerja (misalnya menyangkut masalah Bullying, pelecehan seksual dll ).
Walaupun dalam hal ini lelaki juga bisa menjadi wakil wanita dalam mengambil keputusan, tetapi perhatiannya tentu saja berbeda. Karena Lelaki tidak mengalami perasaan langsung sebagai wanita dalam interaksinya dalam masyarakat sosial.
Maka peran wanita dalam politik dalam hal ini pengambilan keputusan harus didorong maju ke depan. Ingat perubahan bukanlah sebuah hadiah tetapi sebuah hal yang menuntut perjuangan dan diperjuangkan.
Coba saja perhatikan di stasiun-2 kereta. Kenapa di beberapa lokasi wanita begitu sulit untuk masuk ke dalam kereta. Lebih mudah lelaki. karena tinggal melangkah atau bergelayutan. Nah keadaan yang seperti inilah yang sebenarnya diperlukan peran wanita dalam mendesain sebuah kepentingan yang berdampak luas kepada masyarakat.
kalau semua desain-desain, baik desain sosial maupun arsitektur bangunan dikerjakan oleh lelaki, maka pola pikir lelaki masuk dalam desain itu, sehingga tidak salah jika hasil akhir desain hanya cocok untuk lelaki dan tidak cocok untuk wanita. contohnya ya kondisi stasiun dan kereta itu.
Tetapi yang jelas, emasipasi wanita dalam dunia politik sudah terbuka lebar-lebar, 30% disediakan untuk alokasi caleg untuk berebut menjadi anggota Dewan yang terhormat. Tetapi kalau gak mau......... ya sudah...

Tidak ada komentar: