Kamis, 22 Mei 2008

100 Tahun 10 Tahun hari ini dalam Refleksi Diri

Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi.
Rakyat hidup menderita, kemiskinan terlihat dengan jelas di depan mata. Anak-anak dengan pakaian kumal dan tatapan kosong penuh harap adalah hal yang biasa. Tak ayal tatapan sebelah mata sebagai bangsa miskin, bangsa bodoh, manusia kelas dua, tidak pernah tahu harus bertindak apa dan tidak bermartabat, selalu menghiasi bangsa dunia saat melihat bangsa kita.
Berharap pada Pemerintah ( Belanda ) menolong dari garis batas kewajaran, jelas hanya sebuah harapan kosong. Berharap pada para pejabat pangreh praja, sama kosongnya. Pemerintah (Belanda) yang datang sebagai pedagang telah memberikan target pencapaian yang luar biasa untuk memenuhi catatan pundi-pundi kekayaan negara. Para pangreh praja adalah tumpuan terbaik tercapainya target tersebut.
Pangreh Praja kita, janganlah berfikir tentang nasib rakyat, apa yang ada di kepala mereka adalah bagaimana bertahan dengan jabatan, dengan berkhitmat sebaik-baiknya pada Pemerintah (Belanda). Adalah sebuah prestasi yang luar biasa dapat memenuhi target pendapatan yang telah ditetapkan dan Mereka tahu bahwa kekuasaan itu nikmat. Kenyataan adalah Rakyat dibiarkan berjuang sendirian hanya untuk bisa bertahan hidup.
Pemerintah (Belanda) kemudian memang mendirikan sekolah dan melaksanakan pendidikan, tetapi sayang, tujuan memang tidak untuk membuat bangsa ini pandai, tetapi untuk mencukupi tenaga pembantu urusan tulis menulis mencatat berapa besar kekayaan bangsa kita yang telah diangkut ke negeri sana.
Kaum muda pun bergerak, berkesimpulan bahwa merekalah yang harus mengambil prakarsa menolong rakyatnya sendiri.
Boedi Oetomo adalah tempat dimana kaum muda mengorganisir diri, untuk kemudian mereka mendidik, dan memberi penyadaran akan pentingnya kemerdekaan bagi bangsa dan negara. Untuk kemudian berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Tanggal dicetuskan itulah yang kemudian ditetapkan sebagai hari Kebangkitan Nasional.

Agustus 1945 Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa yang mandiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar lain di dunia, melalui sebuah perjuangan hidup mati.
Sejarah selalu berulang dan kita belajar sejarah hanya untuk lulus ujian sekolah. Rupanya bangsa kita tidak pernah benar-benar sebagai bangsa yang mandiri, merdeka dan dewasa. Setelah lebih dari 50 tahun merdeka. Pemerintah (Belanda) berpindah ke Pemerintah Pangreh Praja. Sekali lagi kekuasaan itu nikmat.
Pangreh praja memang pernah belajar, bagaimana membesarkan bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan dewasa. Tetapi kekuasaan memang nikmat tidak terkira. mereka belajar bagaimana bertahan dengan kekuasaan sehingga mereka seperti lupa bahwa tugas bangsa selain bertahan hidup juga harus bermartabat dihadapan bangsa-bangsa, sekaligus juga mewariskan sebuah generasi yang kuat sebagai penerusnya. Mereka justru menjadi tiran baru setelah tiran yang lama kembali ke negerinya sana.

Kamis 21 Mei 1998, pukul sebelas siang,
Kaum mudapun menggeliat, Melalui sebuah demonstrasi yang tiada henti dan mengerahkan segenap usaha dan juga darah anak-anak muda. Sebuah kekuasaan tiran secara resmi tumbang. harapan untuk kehidupan yang lebih baik pun tumbuh dan berkembang. Dan hari itu dinyatakan sebagai tonggak reformasi, harapan perubahan struktur kehidupan yang lebih baik pada rakyat.

Tetapi lagi-lagi sejarah berulang, ternyata kita masih harus menyembah untuk belas kasihan pemodal asing. Sekarang, tatkala kita ingin bangkit, kita seakan kembali terperangkap ke dalam koridor sempit yang mengerdilkan kemartabatan dan kemandirian kita. Anak-anak muda kita memang pandai dan membanggakan. Bahasa Inggris mereka cas-cis-cus sangat lancar mengagumkan, cukuplah untuk sekedar merayu David Beckham, tetapi lagi-lagi kemampuan yang hebat dari anak muda kita, hanya digunakan untuk mencatat berapa kekayaan bangsa kita yang diangkut ke negara entah mana.

Hari ini,
setelah 100 tahun kebangkitan nasional.
setelah 10 tahun kekuasaan tiran tumbang.
Selasa tanggal 20 mei 2008, pukul sembilan pagi,
Tetapi lagi-lagi sejarah berulang-ulang, seorang pemuda menggeliat tapi di tempat tidur saja, untuk sejenak bangun tidur, melihat kalender. Tanggal merah. Libur Nasional. Tidak ada yang harus dikerjakan. dan kemudian tidur lagi.
Sudahlah .. KEbangkitan Nasional hanya Ilusi!!.

Rabu, 07 Mei 2008

Outsourcing


Karl Marx berujar, Bekerja merupakan sebuah cara dimana manusia menyatakan eksistensi dan mengidentifikasikan siapa dirinya. Masyarakat pada umumnya menekankan status pekerjaan dalam pengukuran nilai dan konsep diri individu yang terintegrasi di dalam lingkungan sosial masyarakat. Oleh karena itu dipecat menjadi hantu yang menakutkan bagi kaum pekerja, terutama bagi yang tidak memiliki self competence untuk tetap bertahan hidup mandiri.
Bekerja adalah sebuah konsep diri, posisi dimana kita bekerja menentukan bagaimana konsep diri kita.
coba kita tanyakan kepada pekerja telkom yang outsourcing tentang dirinya. tentu saja berbeda dengan pegawai telkom yg karyawan. tentu saja berbeda.
status menentukan cara pandang mereka.
sebenarnya aku termasuk orang yg mendukung penghapusan outsourcing, atau paling tidak perbaikan kondisi outsourcing.
masalahanya kalau dilihat dari kondisi kerja di telkom, kalau dihitung-hitung bisa separo dari pekerja di telkom ini adalah outsourcing dan mereka yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan pelaksana yang dulu dikerjakan oleh karyawan telkom dengan band 7 atau grade level 21-25.
memang secara angka-angka outsoucing ini menghemat biaya kantor, tetapi dari segi pemerataan pendapatan ke level masyarakat, dengan penghapusan program outsourcing akan membuat banyak orang dengan gaji yang lebih besar di masyarakat.
tentu saja hal ini juga akan memberatkan perusahaan juga.
hal ini bisa diingat dari tuntutan dari karywan Telkom ex TPBW yang meminta masa kerja kontrak mereka diakui sebagai masa kerja sebagai karyawan yang nanti akan dihubungkan sebagai masa kerja dalam penghitungan pensiun.
memang runyam kalau sudah begini.

Jumat, 02 Mei 2008

May Day 2008




Kegiatan bulan Mei dibuka dengan perayaan MayDay...

Berjalan menyusuri Sudirman-Thamrin. Diantara gedung-gedung tinggi menjulang, dan jalan aspal yang halus yang membentang rata. Bersama ribuan orang Berseragam merah-merah, biru-biru dan kuning-kuning dan juga hitam, kita dan mereka berbaris berbanjar mememenuhi jalan kota, berjalan berramai-ramai menuju Istana.
Panji-panji ditegakkan. Suara-suara dilantangkan. Menyampaikan sebuah tuntutan akan sebuah perbaikan hidupa yang lebih baik.
Hari ini Mereka memperingati suatu hari di tahun 1886, ketika tuntutan akan perbaikan kehidupan yang lebih layak di Amerika Serikat disambut dengan berondongan senjata api dan ratusan orang tewas. 1 May saat itu dan kemudian hari itu di kenang sebagai MayDay satu hari dimana kaum buruh, pekerja menyatakan diri keberadaan mereka dengan tuntutan akan berbaikan nasib mereka yang lebih baik.
Memang sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan, perjuangan Menyuapi mulut yang selalu menganga adalah sebuah perjuangan yang tidak pernah ada habisnya. Sebelum akhirnya tanah yang akan memakan habis tubuh mereka.

Mereka turun ke Jalan,

Mereka Melantangkan,

Akan sebuah kehidupan yang lebih baik...

Tapi apakah cukup hanya sampai segitu ???

Senin, 14 April 2008

Tugu Tani Menjelang Siang

Tugu Tani menjelang tengah hari. Terik matahari memanggang Jakarta. Dibawah lampu merah dari Kebon Sirih, lelaki kecil berdiri tidak peduli menantangnya. Matahari membakar rambutnya menjadi pirang kemerahan. Tubuh kotor dan kaos dekil. Mata memerah, garang mengawasi setiap lalu lalang kendaraan yang lewat di hadapannya. Berkaos hitam dan celana putih, yang keduanya sudah berwarna pudar, tercemar debu jalanan. Tapak telanjang dia menapakkan kaki di atas aspal jalan. Mata memerah, tangan kecil lemah dan ada beberapa luka sayatan di telapaknya. Di lehernya berhias daki yang berkerut-kerut teratur seperti beberapa hari leher itu tidak disentuh oleh air. Kerutan-kerutan daki itu tampaknya menjadi satu-satunya hal yang teratur yang dimilikinya. Di seberang jauh, di bawah bayang-bayang Patung Tani, seorang wanita duduk memangku bayi mengawasi apa yang dilakukan lelaki kecil itu tadi.
Lampu merah menyala. Mobil sedan hitam menghentikan lajunya. Si lelaki kecil bergegas berlari mendekat, dari sisi kiri, tangannya mengetuk dan menengadah di pintu kaca mobil itu. Kaca mobil terbuka dan hawa dingin menghembus, dan selembar uang seribuan segera memper tautkan tangan kanan lelaki kecil itu dengan tangan kanan halus yang muncul dari balik kaca. Selembar uang berpindah dan kaca mobil pun tertutup.
Gadis kecil, pemilik tangan halus itu kembali mengunyah pizza, dan tangan kiri memegang sisanya, tangan kanan menyeka sisi mulut yang belepotan saus sambal, tetapi sayang, saus itu justru jatuh ke baju seragam sekolah. Sekolah Taman Kanak-kanak. Saus itupun menjadi noda merah di antara warna putih dan kembang-kembang hijau. Baju itu seperti baru atau mungkin juga karena jarang dipakai. Jelas sekali perbedaan warnanya. Duduk di belakang, seorang ibu muda serius membolak-balik kertas-kertas membaca dokumen-dokumen penting perusahaan.
Lampu hijau menyala, mobil sedan bergerak maju. Gadis kecil menghabiskan pizza dan lelaki kecil ke trotoar menunggu lampu merah kembali menyala.
Nasib apa yang membedakan mereka, sehingga mereka memiliki kontras kehidupan yang berbeda ?. Mereka semua anak-anak. Mereka semua baru mengenal kehidupan dunia ini belum lama. Mereka semua masih belum bisa berbuat banyak kecuali atas uluran tangan orang lain. Mereka semua belum bisa menyombongkan diri atas kerja keras yang mereka lakukan sehingga mereka pantas menikmati hasil yang bisa mereka rasakan sekarang.
Manusia memang memiliki derajat yang sama ketika Tuhan masih mewujudkan dalam bentuk ruh di awal penciptaan. Ruh itu tidak memiliki ruang tidak memiliki dimensi apapun seperti yang kita kenal di dunia ini. Sampai kemudian terjadi persentuhan sempurna antara dua manusia, yang menghasilkan segumpal daging dan atas segumpal daging itu Tuhan meniupkan ruh, diri kita, dan untuk kemudian diri kita bersemayam dalam janin untuk mempersiapkan segenap perwujudan jasmani yang kita rasakan saat ini. Tuhan kemudian mempercayakan penyempurnaan penciptaan kita dalam rahim manusia. Ibu kita masing-masing. Kita tidak mengetahui dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk meminta di rahim siapa kita akan bersemayam. Kita seperti Nabi Adam yang bersama Hawa di lemparkan dari surga menuju kehidupan dunia entah di mana.
Di dalam rahim itu kita mulai berkembang sesuai dengan perkembangan gumpalan daging dan membentuk susunan tubuh seperti yang kita kenal. Kemudian kita berkembang dalam wujud janin, kemudian dalam sebuah pertumbuhan sempurna kita keluar dari rahim, sebagai bayi, untuk hadir ke dunia ini. Kita mengenal kehidupan dunia ini sebagai manusia seperti yang kita alami selama ini.
Dari rahim siapa kita bersemayam akan itulah yang akan menentukan banyak nasib baik yang ada di dunia ini atau juga nasib buruk.
Pemilik rahim yang mengklaim diri kita sebagai miliknya dan sebagaimana pemilik, mereka akan memperlakukan kita sebagaimana yang mereka inginkan. Mereka akan memperkenalkan kehidupan dunia ini kepada diri kita, dengan cara yang mereka miliki.
Jika pemilik rahim tempat kita bersemayam, seorang wanita yang berdiri di bawah bayang-bayang Tugu Tani tadi, maka kita akan menggelandang di sekitar Tugu Tani juga atau tidak jauh-jauh dari tempat itu. Kita akan mengenal kehidupan dunia sebagai sesuatu yang berat yang harus kita jalani.
Masih beruntung kita dapat mengenal diri kita, karena bisa jadi ketika pemilik rahim tempat kita bersemayam, tidak lagi berkuasa untuk memberi makan yang cukup kepada kita, kemudian untuk mengurangi beban hidup kita dibiarkan mati, dan kemudian membuangnya di pintu air Manggarai, tenggelam sampai Cideng dan akhirnya mengendap di dasar pantai teluk Jakarta, tanpa pernah mengenal apa itu dunia ini. Atau Bahkan kita dikutuk habis-habisan yang tidak diharapkan kehadirannya.
Dan sangat bisa jadi kita tidak pernah mengenal siapa yang di sebut bapak karena memang tidak diketahui dengan pasti dari benih siapa segumpal daging tempat tinggal kita tumbuh. Sepanjang kehidupan kita selalu dihantui oleh sebuah pertanyaan apakah besok kita masih bisa bertahan untuk tetap hidup di dunia ini. Dan itulah pertanyaan utama sepanjang sejarah hidup kita di dunia ini dan harus dicarikan jawabannya.
Atau kalau kita mampu bertahan untuk hidup, kita akan tumbuh besar di jalanan, dengan tiap hari mengisi paru-paru kita dengan asap pekat knalpot dari mobil yang menderu-deru, setelah meninggalkan sekeping uang logam lima ratusan, dengan harapan mobil terselamatkan atas goresan apapun dari tangan kita. Asap knalpot dan makian-makian menjadi menu wajib harian yang kita dapat dan ketika menjadi nilai diri ketika menilai diri seperti apa.
Tidak ada hal yang bisa diwariskan kepada kita, selain mewarisi kemiskinan dan penderitaan turun temurun. Pendek kata kita akan mengenal kehidupan dunia ini sebagai sebuah perjuangan untuk tetap hidup, dengan hiasan kekerasan dan juga siksaan. Pendek kata, kita sudah mengenal neraka sebelum nanti merasakan neraka yang sesungguhnya setelah meninggalkan dunia.
Tetapi kalau ruh kita ditiupkan pada segumpal daging dalam rahim perut seorang ibu yang memiliki rumah sekitar satu kilo meter dari Tugu Tani, tepatnya di Menteng. Hidup bagai sebuah tamasya yang harus senantiasa dinikmati sehari-hari. Tidak terpikirkan lagi dengan apa kita harus hidup. Segala sesuatu seperti sebuah aliran kehidupan yang membahagiakan.
Pada saat pertumbuhan di dalam rahim kita sudah diberi asupan-asupan makanan yang bergizi tinggi sehingga kita kuat dan memiliki kecerdasaan yang ada pada otak kita. Sambil dielus-elus, kita diperdengarkan alunan musik klasik buah karya mozart, agar kita memiliki tingkat kecerdasan di atas ratarata dan nanti tidak menyusahkan orangtua.
Ketika kita lahir semua orang merayakan. Ketika ulang tahun pemilik kita mengundang teman-teman dekat untuk ikut merayakan kesenangan kehadiran kita di dunia. Ketika kita akan berangkat sekolah ada seseorang yang mengantarkan ke tempat sekolah paling favorite yang jauh dari cita rasa kekerasan. Ketika dewasa kita hidup bahagia, mengkhotbahkan kepada khalayak apa itu hidup bahagia dan bagaimana meraihnya.
Kita sudah terlanjur hadir di dunia ini melalui sebuah rahim dan hal itu tidak pernah kembali lagi ke bentuk semula dan memilih rahim yang berbeda. Termasuk kita sudah tidak bisa lagi berandai-andai. Yang kita hadapi adalah sebuah kenyataan hidup di dunia ini, yang sekaligus mejadi tirai penutup akan kehidupan kita sesungguhnya. Realitas dunia selalu melupakan kita akan ruh kita, kita bahkan tidak menyadari perjalanan ruhani kita. Yang kita hadapi adalah benda-demi benda yang memberikan manis - getir kehidupan kita.
Kita akan tetap hadir dengan apa yang kita sandang di dunia ini, Sampai kemudian ketika tubuh manusia itu mulai renta, kembalilah jiwa itu ke ketempat semula ketika tubuh kita itu sudah tidak ada kesanggupan lagi untuk menahan diri kita bersemayamn di dalamnya. Kita meninggalkan tubuh kita dan kembali kepada Tuhan. Saat itu tirai gelap diri kita tersinggkap.
Tantangan terberat setelah kehadiran kita di dunia ini adalah mengenal diri kita, kemudian bertahan untuk tetap hidup dan kemudian kembali kepada sang pencipta dengan jiwa yang tenang.
Hal yang terpenting dalam mengenal diri, adalah bukan mendasarkan kepada tatapan kita kepada seorang wanita malang di Manggarai, bukan pula mendasarkan kepada kehidupan direktur yang kita pandang sebagai memiliki harta yang banyak dan dengan begitu merasa bergembira, mengemal diri sendiri bukan menunduk ke bawah atau menengadah ke atas.
Tidak ada gunanya kita menyombongkan diri dengan kedudukan kita yang “kebetulan” keluar dari rahim seorang wanita kaya, pun kita tidak ada gunanya memaki-maki dan rendah diri ketika kita lahir dari rahim orang miskin. Baik kesenangan maupun kesengsaraan di dunia ini kadang bukan lah hal yang mampu untuk mengenal kepada siapa sesungguhnya diri kita ini.
Yang lebih penting adalah memahami sisi kemanusiaan kita sendiri dan kembali kepada Tuhan dengan jiwa yang tenang.

==&==

Selasa, 22 Januari 2008

SUATU KETIKA DI KOTA

Suatu ketika di MikroletMaret 1999, Si Mumu adalah seorang pemuda kurus, yang Berambut gondrong hampirsebahu, berjambang, kumis. Itulah sosok keasliannya.Che Guuevara.Suatu ketika si mumu berangkat kantor jam setengah sepuluh, karena tahupekerjaan yang seharusnya diselesaikan hari ini sudah bisadiselesaikan pada hari kemarin, jadi dengan santai dia berangkat ke kantor diWilayah Kota. Mengenakan baju kotak-kotak lenganpendek dengan kaos putih menyalib panjang baju baik di lengan maupun pangkalbaju, sementara baju itu sendiri tidak dimasukkan kedalam celana Alpina yang mempunyai kantong banyak. bersepatu kets eagle biru..Sambil merenungi makna hidup dan keterhempasan diJakarta dia memasrahkan seluruh tubuhnya pada pojokkan belakang sebuah mikroletdari Senen, sambil dengan seksama mengamati setiappanjang jalan dan para pemakainya tentu.Di depan Masjid Kebun Jeruk naiklah seorang anggota jamaah Tabligh, berjanggutrapi, dengan kumis tercukur bersih, berdahi agakkehitam-hitaman konon pertanda banyak sujud, dia duduk di depan si mumu,Tidak seberapa lama kemudian Mikrolet berjalan, dan Tiba-tiba orang itu berkata," Mas, ikut saja pengajian kami ! " kagetlah simumumendengar perkataan atau permintaan begitu, heran juga dia ternyata ada jugaorang jakarta ini yang memperhatikannya. Tetapidiantara kekagetan dia setengah acuh-tak acuh (atau sekedar berlagak saja?) dia bertanya, " kenapa ? "" Di situ banyak juga preman yang sadar !!"" Ooohhh…… !!! "

LEBARANKU

LEBARAN SUATU KETIKAEmpat Tahun sudah Simumu Berada di Jakarta ini, dan Lima kali sudah Iedul Fitridia lalui, berikut kisah-kisah di sekitar harilebaran itu .Lebaran Tahun Pertama 1997" Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuhu !!! " Khotib menutup kotbahnya,segera setelah itu orang –orang berdiri beranjakdari tempat duduk-nya, mereka saling bersalaman satu sama lain, saling berucapselamat, senyum-senyum tertawa-tawa, Ibu-ibu danterutama wanita saling berpeluk cium. Seorang lelaki kurus duduk bengong melihatkejadian itu, simumu orang itu, sesekali masihmenerima uluran tangan dari orang disekitarnya. Dia ingin berbuat seperti apayang orang lain perbuat, tetapi kepada siapa ? Kepadasiapa harus mengucapkan rasa maaf sedangkan waktu 2 minggu tidaklah cukupmengenal dosa-dosa orang yang ada di sekitanya. Haruskahdia memberikan maaf kepada orang yang tidak pernah berbuat salah sebelumnya ataukah dia harus meminta maaf atas kesalahan yangbelum dia kerjakan.Diapun beranjak bangkit dari tempat duduknya, membiarkan mereka menikmati apayang mereka rayakan. Dengan jalan setengah gontai diapergi ke… ( ke.. ? ) akhirnya tempat yang di tuju stasiun Juanda untukkemudian naik KRL pergi ke stasiun Bogor. ( ke satasiunaja ) untuk kemudian kembali lagi ke arah kota dan pulang ketika sore hari tiba.Lebaran Tahun ke Dua 1998Tiba-tiba seorang penjaga menggoyang tubuh simumu " Bangun-bangun, Sholat-sholat!!" katanya setengah kasar ke pada Si Mumu, sambilmenggosok-gosok kedua bola mata, " Dimana ini ? " kemudian tersadarlah dia bahwatempat yang sekarang ini adalah di serambi selatanMesjid Istiqlal. Hari ini hari jum'at.Dia teringat juga setelah sholat Iiedul Fitri tadi pagi, hujan deras mengguyurMesjid Istiqlal (barangkali juga kota Jakarta ). Simumu bingung mau kemana, ke kost, untuk apa ? hari ini anak-anak Ibu kost yangjumlahnya seabrek datang bersama anak cucu-nya, kalausi mumu ke sana mau memulangi siapa ? apalagi hujan-hujan begini. Mau ke rumahsaudara ? pulang kampung tuh ! justru si mumu yang disuruh njagain. Mau ke rumah teman ? biarlah mereka lebih dulu menikmati hariraya lebaran bersama keluarganya dulu tanpa harus diganggu oleh pihak luar.Barangkali memang tidur di Istiqlal seharian merupakan sebuah pilihan yangterbaik sekaligus yang tertolol.Lebaran Tahun Ketiga 1999" Allahu Akbar Allahu Akbar !! " corong suara di masjid sebelah mengetuk kendangpendengaran simumu. Jam 3 lebih 5 menit. Loh sholatasar sekarang ? buru-buru simumu bangun dan bergegas ke kamar mandi.Grreeek…. Pintu dibukanya, kaget, malu tak terkira, tatapan matagadis-gadis cantik cucu-cucu Ibu kost yang berkumpul di ruangtamu depan kamar kosku, memandang mengamati orang asing dihadapan mereka seakanhendak menelanjangi dan mempermalukannya. Buru-buruditutup kembali pintu itu. Beginilah kalo sebatang kara di Jakarta.Sambil duduk tercenung menahan rasa kantuk, lapar dan lelah hasil dari kelilingJakarta tadi malam untuk Takbiran (takbiran ? waallahua’lam ), naik motor ( motor dinas lagi ) dari Monas, Grogol,Kalideres, Kebayoran Lama-Bintaro, Lebak Bulus, Blok MCawang, Tanjung Priok Ancol, berakhir di Tempat Kost Komplek Listrik Kemayoran.Tetapi rasa ingin kencing dan kewajiban belum sholat dhuhur dan asar memaksasimumu menenangkan diri untuk tetap keluar melewatigadis-gadis cantik ini. Sambil merapikan diri, walaupun bagaimanapun juga rambutgondrongnya susah untuk di rapikannya.Lebaran Tahun Keempat 2000 awal" Besok, saya mau sholat ied di Istiqlal, boleh nggak suster !!" kata si mumupada seorang perawat di Rumah Sakit di Semanggi.Perawat itu mengenakan jilbab berwarna abu-abu seragam Rumah Sakit mengganticairan infus yang sebentar lagi akan mengering." Nggak Boleh ! khan masih sakit ! " jawab Suster itu sambil memegang tangan simumu dan memeriksa tekanan darahnya. Halus benarterasa tangan perawat itu terasa beda dengan tangan kasar emaknya yang penuhkapal dari kebiasaan angkat karung di pasar." Tetapi saya bosan di sini ! " kata simumu sambil memandangi gadis ini darisamping, manis juga gadis semarang yang baru lulusAkper setengah tahun yang lalu ini." Khan ada saudaranya yang menemani ? "" Pulang ! "" Jadi sendirian ? nggak ada yang nungguin ? kasihan !!! " katanya bercanda,setelah itu perawat itu memeriksa suhu di leher simumudengan menggunakan balik telapak tangannya, sekali lagi dirasakan halus benarbenar tangan perempuan muda ini terasa, sambilmerapikan dan merapatkan selimut. Seandainya..... ya seandanyanya saja....!!" ya sudah nanti saya bilangi ke dokternya ya kalo boleh ya silahkan, kalotidak, saya juga tidak solat Ied ! " Suster itu pergi,meninggalkan si mumu sendirian di Ruang 305, kesepian benar-benar sendiri,bahkan pasien lainpun tidak ada. Yang ada pasien ruangsebelah, tempat beberapa orang Irian yang di tembak kakinya oleh tentara, itusaja.Hujan rintik-rintik yang belum reda dari tadi siang mengiringi Si mumu menunggupagi, jam 12 malam lebih lima saat ini.Esok hari, HAri RAya Idul Fitri, Simumu berangkat sendirian ke Istiqlal.Lebaran Tahun Kelima 2000 akhirAlhamdulillah Lancar dan bisa pulang kampung berkumpul dengan delapansaudaranya, tapi tak urung ada sebuah pertanyaan yang dibawapulang ke Jakarta, "Ada yang salah dalam diri saya !!" begitu katanya" Ada cerita yg kurang !!!!

Takut Menjadi Tukang Bakso

Takut Menjadi Tukang Bakso
disadur dari : Emha Ainun Najib


Sebuah pengajian yang amat khusyuk di sebuah masjid kaum terpelajar, malam itu, mendadak terganggu oleh suara dari seorang tukang bakso yang membunyikan piring dengan sendoknya. Pak Ustad sedang menerangkan makna khauf, tapi bunyi ting-ting-ting-ting yang berulang-ulang itu sungguh mengganggu konsentrasi anak-anak muda calon ulil albab yang pikirannya sedang bekerja keras.
Apakah ia berpikir bahwa kita berkumpul di masjid ini untuk berpesta bakso !" gerutu seseorang. Bukan sekali dua kali ini dia mengacau !" tambah lainnya, dan disambung "Ya, ya, betul !" Jangan marah, ikhwan, " seseorang berusaha meredakan kegelisahan, "ia sekadar mencari makan ..." Jangan-jangan sengaja ia berbuat begitu! Jangan jangan ia minan-nashara !" sebuah suara keras.
Tapi sebelum takmir masjid bertindak sesuatu, terdengar suara Pak Ustad juga mengeras: " Khauf, rasa takut, ada beribu-ribu maknanya. Manusia belum akan mencapai khauf ilallah selama ia masih takut kepada hal-hal kecil dalam hidupnya. Allah itu Mahabesar, maka barangsiapa takut hanya kepada-Nya, yang lain-lain menjadi kecil adanya. "
Tak usah menghitung dulu ketakutan terhadap kekuasaan sebuah rezim atau peluru militerisme politik. Cobalah berhitung dulu dengan tukang bakso. Beranikah Anda semua, kaum terpelajar yang tinggi derajatnya di mata masyarakat, beranikah Anda menjadi tukang bakso? Anda tidak takut menjadi sarjana, memperoleh pekerjaan dengan gaji besar, memasuki rumah tangga dengan rumah dan mobil yang bergengsi: tapi tidak takutkah Anda untuk menjadi tukang bakso? Yakni kalau pada suatu saat kelak pada Anda tak ada jalan lain dalam hidup ini kecuali menjadi tukang bakso? Cobalah wawancarai hati Anda sekarang ini, takutkah atau tidak? Ingatlah bahwa tak seorang tukang bakso pun pernah takut menjadi tukang bakso. Apakah Anda merasa lebih pemberani dibanding tukang bakso? Karena pasti para tukang bakso memiliki keberanian juga untuk menjadi sarjana dan orang besar seperti Anda semua. "
Suasana menjadi senyap. Suara ting-ting-ting-ting dari jalan di sisi halaman masjid menusuk-nusuk hati para peserta pengajian.
Kita memerlukan baca istighfar lebih dari seribu kali dalam sehari, "Pak Ustadz melanjutkan,"karena kita masih tergolong orang-orang yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajad rendah, takut tak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor, takut miskin, takut tak punya jabatan, takut tak bisa menghibur istri dan mertua, dan kelak takut dipecat, takut tak naik pangkat ... masya Allah, sungguh kita masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomorsatukan Allah !"
--

JATI DIRI

JATI DIRI


" Saya ingin mengenal jati diri saya " Begitu kata Elvira Karimova Vernon, ketika ditanya "kenapa seorang Insinyur Sipil belajar Ilmu Psikologi ?" Elvira adalah seorang muslimah lulusan teknik sipil di Universitas Moskwa, Rusia. Sekarang sedang belajar psikologi di Universitas Toronto Kanada.
Mengenal jati diri, begitu kata yang sering masuk ke dalam telinga kita, atau kita baca rangkaian huruf-hurufnya. Lalu apakah yang dinamakan jati diri itu, mengapa untuk mengenal jati diri Elvira harus jauh-jauh merantau dari Moskow ke Toronto untuk belajar Psikologi. Yang jelas tidak ada seorangpun yang dianggap paling tepat untuk mendefinisikan jati diri. Apa dan bagaimananya.
Nabi SAAW mengatakan " siapa yang mengenal dirinya sendiri dia akan mengenal Tuhannya ?" orangpun menafsirkan bahwa jatidiri manusia adalah wujud ketuhanan yang mengejawantah pada diri manusia. Dan masih banyak penafsiran lain dari jati diri tentunya. Orang modern menganggap, jati diri identik dengan eksistensi (keberadaan) manusia terhadap diri, orang lain dan lingkungannya.
Tentu saja Elvira di Toronto sana, tidak sekedar menunggu masa lajang berakhir, Juga anda disini. Apakah di Fakultas Psikologi ini anda dapat mengenali jati diri anda ? atau lebih mengenal jati diri anda ? tentu anda sendiri yang dapat menjawabnya ?. Coba perhatikan diri anda, perubahan apa saja yang telah terjadi dari awal anda masuk, atau lebih tepatnya sebelum anda masuk ke fakultas ini sampai saat ini ? atau tanyakan ke teman anda bila ternyata kuliah psikologi ekstensi terasa tidak nyambung dengan lulusan waktu kuliah sebelumnya atau bidang kerjanya sehari-hari !
Selamat mencari jati diri, tetapi ingat seringkali yang didapat bukanlah sebuah jati dir yg sesungguhnya tetapi kesepian diri. Tugas manusia tidaklah cukup dengan mencari jati diri tetapi mengenali diri orang lain dan lingkungan. Begitu kata Haydar Baqir.

Social Mechanized

Social Mechanized


“ Allah Akbar Allahu Akbar !! “ adzan subuh mengumandang dari masjid samping rumah, merupakan tanda yang berarti umat islam yang soleh dan taat harus segera bangkit dari tidur, dan menghadapkan diri pada Tuhannya dengan ketulusan. Sebuah penyerahan pagi ini dimulai dengan pengingatan adanya Tuhan. Tetapi seperti biasa juga, di daerah orang-orang pinter ini, sholat subuh hanya diisi oleh beberapa gelintir mahasiswa, yang lainnya adalah orang tua penduduk setempat
Namun bagiku adzan subuh ini malah kuanggap mirip seperti suara terompet Fanfare pertanda jam malam sudah selesai, dalam asrama di barak siswa pendidikan militer, yang harus segera, mau tak mau, berbenah diri memenuhi kewajiban-kewajiban pagi ini dalam aturan sang waktu.
Malam terasa cepat benar, berlalu, belum juga sempat aku bermimpi bahkan aku sudah melupakan apakah aku tadi bermimpi atau tidak. Dan kini aku sudah dituntut oleh kesiapsiagaan bahwa aku harus segera bersiap sebagai seorang pekerja yang harus mematuhi segala hal yang berlaku termasuk jam berapa paling tidak aku sudah harus menginjakkan kakiku ke halaman kantor (atau yang lain) jam berapa harus memasukkan kertas kaku ke mesin waktu untuk di stempel jam berapa kedatangannya. Kalau tidak maka insentif bulan ini akan berkurang,………. hmmmm. Selain itu jam subuh ini pula yang telah merubah diriku dari diri sesungguhnya, ya sesungguhnya, karena ketika aku tidur aku benar-benar tidak tahu siapa diriku, dan kini aku harus merubah diriku menjadi seorang pekerja yang harus patuh terhadap segala aturan, sekrup bagi sebuah perusahaan besar, untuk kemudian jam lima nanti aku segera bermetamorfosis lagi menjadi seorang mahasiswa yang dengan tekun berjejer duduk dalam deretan rapi kursi kelas kuliah sambil menggariskan tatanan baku dan lurus yang harus tergaris dalam kehidupan ini. Dan ajaib dan sungguh ajaib tiba-tiba saja garis lurus yang tergambar dalam pikiran itu, berubah menjadi garis dengan sudut sangat tumpul di balik meja kerja, aku tetap tidak berdaya dan tidak mampu berbuat apa-apa.
Jam 5 pagi kurang seperempat sekarang, ada 45 menit kesempatan untuk aku pergi mandi dan seperangkatnya, memanaskan air dan membuat secangkir plastik teh manis, dan menghabiskan sepotong sisa martabak semalam. Jangan bertanya tentang sarapan, selain tidak sempat, yang jelas tidak ada yang membuatkan. sebelum sampai setengah 6 dan aku harus segera angkat kaki menuju terminal, untuk mendapatkan tempat duduk di sisi dalam bis Patas AC 82 Depok-Tanjung Priok. Untung-untung dekat dengan si mbAk yang manis, walaupun duduk saling diam tetapi terasa menyenangkan, dan tetapi jika bersanding dengan bapak-bapak, ya sudah…tidur dilanjutkan. Itu-itu saja terus tiap pagi, ketemu itu-itu juga terus tiap pagi. Social mechanized !, bahkan aku bisa memperkirakan, ketemu si Manis yang mana, dan aku harus berangkat jam berapa !!
Untuk selanjutnya aku berkumpul dengan bapak-bapak dan ibu-ibu, tetapi aku tidak bisa membedakan apakah di sini bermain ataukah bekerja. Aku juga tidak paham benar disini tempat kumpulan orang bekerja bersama ataukah menganggap disini adalah Playgroup untuk orang dewasa. Yang jelas adzan ashar mengingatkan semuanya sebentar lagi waktu pulang tiba, sholat dulu baru beres-beres meja sambil menunggu kalau-kalau ada tugas tambahan, memperpanjang jam dinas kerja. Kalau tidak, berarti dibawah jembatan penyeberangan, angkutan DEPAG menunggu sudah. Persis seperti kemarin, penumpangnya adalah itu-itu juga. Bapak itu, ibu itu, mBak itu dan aku itu……..( Ehhh mBak yang itu namanya siapa ya ? aku walaupun tiap hari bertemu juga, tidak mengenal siapa ). Tetapi yang jelas adzan Maghrib kurang lebih, atau paling telat adzan Isya’, kunci pintu rumahku sudah kubuka dan lampu aku nyalakan sendiri ( siapa lagi ? ). Prosesi hari ini diakhiri dengan saling berhaha-hihi, Bapak dengan Ibu dengan anak-anaknya, sedang aku cukup dengan kawan-kawan saja. Sebelum lampu dimatikan.
Besok ? Begitu setiap hari !. Serasa arti sejarah diri ini diisi oleh tidur malam Senin dan Bangun Sabtu pagi. Lembaran-lembaran kehidupan yang nyaaaaaris mirip photocopy-an hari-hari kemarin……… ( mumu haydar )

CINTA yang MEMBEBASKAN

Cinta yang terbebaskan
Mata itu sama dengan mata lainnya,
tapi mata itu selalu memaksaku mengingat tentang pemiliknya,
Senyum itu sama dengan senyum lainnya,
tapi senyum itu selalu memaksaku berfikir tentang pemiliknya,
langkah itu sama dengan langkah lainnya,
tapi langkah itu selalu memaksaku berkhayal tentang pemiliknya,

apakah mengobati gundah hati karena mata itu,
harus dengan mengikat si pemilik mata ?
apakah meredakan gejolak rasa karena senyum itu,
harus dengan memiliki si pemilik senyum ?
apakah memuaskan hasrat hati karena langkah itu,
harus dengan menguasai si pemilik langkah ?,

kurasa cinta tidak sekerdil itu,
biarkan mata itu terus mengguncang gundah hatiku,
biarkan senyum itu terus meregang gejolak rasaku,
biarkan langkah itu terus memacu hasrat hatiku,
biarlah sang pemilik menentukan tali pengikatnya sendiri,
biarlah sang pemilik memilih figur pemiliknya sendiri,
biarlah sang pemilik menguasai dirinya,


Ahmad Mamo,
dalam sebuah file yg terselamatkan di komputerku !!diri

Terima kasih kepada Ahmad di banyak kehadirannya di kost ku !!

Kamis, 03 Januari 2008

Kekuasaan merupakan daya pikat nomor satu.

Kekuasaan merupakan daya pikat nomor satu.

Memang tidak semuanya, tetapi bagi sebagian besar manusia dimuka bumi ini, kekuasan, uang dan wanita merupakan candu-candu yang nyata bagi manusia. Keinginan untuk menjadi nomor satu, menjadi orang yang kaya dan mampu menaklukan manusia atas manusia lain, menjadi menu wajib yang diajarkan dimana-mana apalagi di sekolah-sekolah. Kursus-kursus leadership diselenggarakan tiap harinya di hotel-hotel mewah dan juga di gubug2 reyot.pembicara dengan semangat menguraikan bagaimana menjadi pemimpin yang baik dan mempunyai daya pikat bagi orang lain. buku-buku tentang kepemimpinan diterbikan tiap minggunya. Orang-pun membeli buku dengan harapan agar tertular semangat dan sekaligus mendapatkan ilmunya.
Dalam pandangan agama, belajar merupakan sebuah kewajibab, juga belajar untuk mendapatkan kekuasaan dan kekayaan ekonomi, sepanjang mempunyai niat yang yaitu bertujuan kembali kepada ALlah dengan Jiwa yang tenang.
Apakah apa yang kita pelajari menuntun kita kepada Jiwa yang tenang, nah inilah sebuah titik krusial. tidak peduli apakah yang dipelajari merupakan sisi yang dianggap masalah-masalah duniawi atau masalah-masalah yang berhubungan dengan akheerat.
dalam agama sendiri tujuan hidup manusia adalah tidak lain kembali ke pada allah dengan hati yang bersih. ilmu-ilmu tentang hati yang bersih ini sangat jarang untuk dipelajari oleh manusia. manusia kebanyakan belajar setengah mati untuk sebuah ilmu yang berhubungan dengan kekuasaan dan kemampuan keuangan. TEtapi jarang yang mengembangkan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan agama sebagai sebuah mainstream keilmuan, yang sangat memungkinkan bila ilmu-ilmu agama ini dikembangkan tidak kalah menariknya dari ilmu-ilmu yang dikembangkan dalam sifat materialistis. seperti yang kita dapatkan selama ini.
Apakah selama kita menuntut ilmu mempunyai tujuan untuk kembali kepada Allah dengan hati yang bersih ? Jika tidak, maka ilmu yang kita tuntut merupakan ilmu yang sia-sia dan hanya menjauhkan diri kita kepada ALLah saja.

Rabu, 26 Desember 2007

Mas Basuki In Memoriam....

Kepergian Mas Basuki... Beberapa waktu yang lalu membuat arti tersendiri bagiku...
inilah yang aku tulis mengenai mas Basuki tersebut ...
JADI KACUNG
“Jadi kacung!!” begitu Basuki pelawak srimulat menimpali, ketika Nurbuat bercerita kalau nanti daerah tempat mereka tinggal akan dibangun Gedung tinggi bertingkat. Lalu nurbuat bertanya kita mau jadi apa.
Tentu saja semuanya tertawa karena jawaban Basuki kelewat sederhana dibanding teman pentas lainnya, timbul, asmuni dan tarsan, yang masing-masing pingin jadi direkturnya, pingin manajernya dan lain-lain yang memiliki jabatan tinggi dan mentereng. lha Basuki kok cuma pingin jadi kacungnya. Tentu saja sebuah keinginan yang menggelikan.
Begitulah suara Basuki, sekitar lebih dari 20 tahun yang lalu ketika aku mendengar dalam lawakan srimulat di radio, satu-satunya alat hiburan elektronik yang dimiliki waktu itu. Yang aku dengarkan saat malam-malam menjelang tidur. Entah mengapa lawakan basuki itu begitu terekam kuat dalam ingatanku sampai sekarang. Ada pertanyaan yang mengetuk-ngetuk alam pikiran waktu itu. kenapa Basuki cuma pingin jadi kacung ?
Tetapi setidaknya jadi kacung, pesuruh kantoran, masih dianggap lebih baik, paling tidak, tiap hari tidak harus panggul-panggul angkring atau dorong-dorong grobak untuk berjualan keliling menyusuri jalanan jakarta, dan dengan bekerja di kantor maka selalu menggunakan baju yang lebih bersih dan bertemu dengan orang-orang gedean, dan tentu saja bisa sambil membesar-besarkan cerita hidupnya setiap hari.
20 tahunan sudah lawakan Srimulat itu berlalu, Ketika desa Cawas, sebuah desa di luar kota Klaten, sudah lama aku tinggalkan untuk menginjakkan kaki di tanah Jakarta. Tidak seperti di kampungku, di Jakarta pembangunan berjalan dengan cepat. Kalau aku pulang kampung, aku masih mendapati gardu yang dulu aku jadikan semacam markas untuk perang-perangan dengan senapan pentil. Tetapi di Jakarta, tempat-tempat yang aku lihat di film-filmnya Benyamin, sudah tidak bisa dijumpai lagi dan berganti menjadi gedung-gedung bertingkat tinggi.
Tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, tiap tahun, gedung menjulang semakin lama semakin tumbuh & membentuk hutan beton di belantara kota Jakarta. Seketika itu pula ingatanku selalu tertuju pada kata-kata Basuki, akan menjadi kacungkah kita saat gedung itu selesai dan diresmikan ?
Memang benar, kang Diman yang memanggul-manggul semen untuk diaduk untuk memoles dindingnya, Mas Yono yang menumpuk-numpuk batako kemudian menjadi tembok, kang pardi yang mencat temboknya. Namun nama-nama itu tidak pernah ada dalam daftar orang yang berjasa sebagai pembuatnya. Dalam akta tertera Mr John dari Amerika sana, sebagai pembuat yang akan menyerahkan gedung.
Selanjutnya Mr John akan menyerahkan kepada Bapak Tono, dan kemudian di tempati oleh Jono yang menjaga ruangan gedung setipa malam dan si Udin menyapu lantainya tiap hari. Tetapi bukan mereka sesungguhnya pemilik Gedung, tetapi Mr Lee dari Hongkong, dan di wakilkan ke Bapak Tono.
Untuk mampu bekerja di dalamnya kita harus mendapatkan pendidikan yang lumayan mahal. Untuk kemudian diseleksi dan dengan kriteria tertentu kita di pilih untuk berhak menghuni dari gedung jangkung itu di kala siang hari. Kepandaian kita mengetik computer. Sekolah S1 dan kemudian kita berhak untuk bisa diperintah oleh bule-bule itu, bahasa inggris kita harus cas-cis-cus. Sebagian besar memang kita diatur oleh orang asing atau orang asing memang tidak mengatur tetapi hasil dan kerja keras kita digunakan untuk pembangunan di negeri sana.
Mungkin benar kata Nietzsche, membedakan manusia menjadi beberapa golongan, yang mempuyai kepribadian yang berbeda. Manusia unggul, herren moral, moralitas majikan, diatas manusia kalah, herden moral, moral budak. yang kemudian memberikan inspirasi bagi manusia untuk melakukan penindasan atas manusia lain. Apakah kekalahan kita adalah sebuah takdir yang sudah ditetapkan atau sebuah ketidakadilan yang ditindaskan ?
Kenapa 350 tahun 3 rombongan kapal dagang mampu menguasai Indonesia? Jawaban menurut Nietzsche, itu karena kita memang layak untuk dijajah ? Atau kah karena secara arketif, kepribadian suatu kaum, golongan, atau bangsa yang sudah diturunkan jauh sebelum kita lahir dari nenek moyang kita. Karena dari arketif kita kita memang orang kalah ? orang yang lemah ? Kalau ya, memang tidak mudah merubah arketif kita dari arketif bangsa kalah ke bangsa yang menang. Karena di dalamnya perlu pembuktian-pembuktian.
Menjadi kacung itu sebuah keadaan atau sebuah dataran mental ? tidak sedikit orang yang mengawali karir sebagai seorang pesuruh untuk kemudian menjadi yang memiliki perusahaan dikelak kemudian hari. Tetapi banyak orang juga menjadi pesuruh di kantor dan kemudian diwariskan kepada anaknya.
Kekalahan Indonesia dalam berbagai bidang sudah sering teramat sering kita dengar dan malah membuat kita tidak yakin adakah kemampuan bangsa Indonesia sesungguhnya ? Takdir karena sebuah arketif turun menurun yang diwariskan oleh nenek moyang kita kepada generasi penerus seperti kita.
Perusahaan-perusahan kita memang sudah dijuali, dan tidak lagi menjadi milik bangsa kita, atau minimal milik pengusaha warga indonesia. Jangan katakan kita pemalas, kita juga sudah bekerja keras. Tentu saja sesuai dengan yang kebiasaaan yang kita lakukan setiap hari.
Tetapi ya.. hanya kita segelintir orang yang bekerja, selebihnya uang-uang kita mengalir, untuk kemudian menjadi hunian-hunian mewah di nun jauh di seberang sana, Miami atau Orchad Road Singapura atau bahkan sebagian lagi untuk membeli butiran-butiran peluru untuk kemudian di lontarkan kembali kepada orang-orang tanpa salah di palestina, afghanistan atau irak sana. Siapa tahu ? dan itulah hasil kerja keras kita menghabiskan sepenggal sisa hidup kita sehari-hari, yang bahkan untuk untuk diri sendiri, kita tidak sempat lagi menyisakan kesempatan.
Sementara gedung-gedung sekolah dasar kita dibiarkan ambruk di makan rayap dan runtuh mengenai kepala anak-anak kita. Sementara anak-anak kita, kita biarkan tanpa biaya untuk bisa mengenyam pendidikan yang layak dan membaca buku yang bermutu.
Di kereta, kita sudah cukup puas mendapatkan rongsokan jepang yang sudah mendapatkan keuntungan dua kali dari kereta yang dibawa kesini, pertama karena tidak harus mencari tempat sampah dan kedua dapat uang dari penjualan rongsokan jepang itu. Apa boleh buat kereta itu menjadi kereta ekspress nomor satu di jakarta, dan tentu saja di negeri kita.
Dari tanah yang terbentang luas, ternyata tempe dan tahu, yang dianggap makanan rakyat ternyata merupakan barang impor dari amerika bahan dasarnya. Kekalahan kita bukan hanya disatu tetapi dibanyak bidang, terlalu panjang daftar kekalahan yang kita cantumkan disini. Kita bukan hanya kalah dalam struktur phisik tetapi juga cara berfikir dan berbudaya. Kita bukan hanya kalah dalam segi uang tetapi juga pemikiran. Bukan hanya kalah pemikiran, tetepi juga kalah mental. Kekalahan kita bukan hanya kekalahan atas keadaan nyata tetapi sudah berada dalam alam ketidaksadaran di nun jauh lubuk hati kita.
Kadang terpikir setelah kita bekerja dan sedikit kaya apakah kacung segera hilang dari diri kita. Dari diri kita mungkin ya, tetapi sebagai bangsa tentu saja tidak.
Bukankah sudah ditanamkan dalam diri kita (lebih tepatnya dalam diri saya ) untuk menjadi pegawai negeri, bukankah menjadi pegawai negeri juga sebuah mental untuk tetap bekerja atas dasar perintah dari orang institusi yang lebih tinggi, orang dengan jabatan.
Ya realistis, benar kata basuki, harapan pantas dari kita adalah menjadi kacung… itupun sulit. Sudah waktunya memikirkan kata-kata mas Basuki itu.....
Selamat jalan mas basuki.

Senin, 03 Desember 2007

Sewajarnya

Ternyata tidak mudah menduduki dirinya pada tempat yang sewajarnya. sewajarnya di dalam hati dan pikirannku. Godaan untuk memberi pesan atau berbicara teramat besar untuk di cegah. Entahlah mungkin karena baru pertama kali in imengijinkan pintu hati tetrbuka untukorang lain masuk. sehingga terlalu mengaggap ideal apa yang aku anggap dalam pikiranku.
Dalam perjalan pulang dari Mudik lebaran pulang kampung naik motor, terpaksa aku berjalan lambat karena beberapa kali nyaris menabrak mobil atau motor di depanku. Bayangan dirinya teramat susah untuk dihapus.
sehingga aku terpaksa berjalan pelan dan 2 hari perjalan untuk sampai ke depok.
Di tengah perjalanan, tepatnya di kebun raya bogor, di tepi jalan dan aku duduk disitu...

Kamis, 01 November 2007

SUMPAH PEMUDA----Sebuah Monolog Zaman Kini---

SUMPAH PEMUDA
Sebuah Monolog Zaman Kini


Tjipto, 22 tahun ketika 1908 bersama teman-teman seusianya, mendirikan Boedi Oetomo. Dokter muda ini berjuang membangun patriotisme Indonesia , dengan menyiapkan sebuah tanah air yang satu untuk segala suku, segala ras. Saat itulah cita-cita pergerakan untuk mewujudkan satu Indonesia modern mulai digetarkan.
Soekarno berusia 25 tahun ketika lulus dari fakultas teknik sipil dan menolak untuk bekerja pada pemerintah Belanda dan memilih bersuara lantang di jalan dan Gelora suaranya tealah memikat masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan Indonesia yang merdeka, mandiri, sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Kelak Soekarno dianggap sebagai founding father bangsa Indonesia.
Hatta berusia 23 trahun ketika lewat wajahnya yang dingin dan suara yang membosankan, tetapi tahun 1927 lewat tulisan-tulisannya yang membara membawa Indische vereeniging mengajar bangsanya untuk mempunyai kesadaran akan kekuatan diri menuju ke kemerdekaan. Kelak bersama seterunya diangkat sebagai bapak proklamator bangsa Indonesia .
Syahrir, 38 tahun ketika dipercaya sebagai perdana menteri termuda di dunia saat itu dan di negeri muda pada tahun 1947. Sikap yang sangat santun telah menempatkan dia sebagai seorang diplomat tangguh dengan gerak universalisme yang mampu melepaskan diri dari satu tradisi sempit, yang membawa-bawa bau tradisional, primordial, atau parokial.
Achmad berumur 27 ketika tahun 1951 mengambil alih kepemimpinan organisasi yang bercitacita berjuang bagi golongan yang anti kelas dan berjuang mangatasnamakan rakyat jelata melawan penindasan kaum kaya yang berpesta pora. Walaupun akhirnya hidup bukan cerita indah bagi cita-cita-nya. Butir-butir timah panas menghujamkan nyawanya dan Lelaki itu kemudian dicatat dalam sejarah Indonesia dengan DN Aidit sebagai pengkhianat bangsa.

Mereka lahir pada saat zamannya ketika Indonesia masih baru sebuah rencana, tetapi mereka bergerak dan tidak menyerah pada kenyataan yang ada, untuk kemudian mencari jawaban nyata untuk mengatasi segala masalah yang ada. Mereka hanya sedikit contoh diantara banyak lagi kaum muda yang tersentuh dan bergerak mengatasi persoalan bangsanya. Dan kita mengenal mereka sampai saat ini.
Tetapi Kadangkala sebuah sejarah hanyalah sebuah kenangan tanpa menjadi bahan pelajaran. Ketika zaman memaksa seseorang untuk bergerak dan kemudian menempatkannya menjadi pahlawan. Zaman bergerak zaman berubah, 2 generasi setelah bapak-bapak itu melahirkan anak-anak kandungnya para pemuda masih dipaksakan untuk mengingat-ingat mereka sebagai sebuah romantika belaka.
Tetapi sekarang, ketika kita bersama sudah melewati berbagai Orde. Kita masih mendapatkan, Saat ketika organisasi Pemuda X masih dipimpin oleh lelaki dengan beberapa cucu. Ketika Gerakan Pemuda Y dipimpin oleh lelaki 44 tahunan,
ketika Angkatan Muda Partai Z dipimpin oleh lelaki seusia separuh abad. Bahkan ketika negeri kita, Indonesia , silih berganti pemimpin oleh presiden dengan orang-orang yang makin lama makin tua.
Dimanakah orang muda kita ? orang muda kita sedang berkutat di tut-tut keyboard komputer!!. dan yang lebih muda lagi, sekarang sedang resah menunggu jawaban apakah nanti bisa mendapat pekerjaan untuk memencet tut-tut keyboard komputer itu atau tidak. ( mumu haydar )

ditulis ... malam2 menjelang pagi tgl 28 oktober 2007....
...duhhh sekarang jadi susah tidur begini...

Sabtu, 20 Oktober 2007

Balik Ke Jakarta

Balik Jakarta. Selasa 16 Oktober 2007.
Berangkat dari Cawas pukul 6.30 pagi kita melewati Pedan-Karangwuni-Jatinom-Boyolali Setelah itu lurus melalui jalur Semarang dan akhirnya pantura. Sebenarnya ada 2 alternatif arus besar, yakni jalulr selatan lewat Cawas-bayat-Bendo Gantungan-Terus lurus Jogja dan melalui Jalur Selatan.
Sekarang menggunakan jalur pantura karena untuk lebaran sebelumnya kita sudah menggunakan jalur Selatan Jawa, dan kini mencoba untuk menggunakan jalur Pantura untuk balik ke Jakarta.
Sesampai di boyolali, sekitar pukul 6.45, saya berkeinginan untuk memotret Gunung Merap[I dari arah kemusuk makanya saya berbelok kearah Musuk, tetapi sayang sudut pandang merapi yang bagus tidak bisa saya dapatkan sehingga tidak jadi melakukan pemotretan gunung merapi. Setelah setengah jam naik motor ke atas akhirnya aku putuskan untuk kembali lagi ke jalur jalan raya dan segera bergegas menuju Semarang.
Jalan rame tapi sangat lancer, hal ini kemungkinan para pemudik belum banyak yang pulang ke Jakarta, karena masa liburan khan juga masih lama. Kira-kira masih 5 hari lagi di kampong atau 6 hari sebelum hari kerja masuk.
Sebenarnya jalur kea rah semarang merupakan jalur yang sangat nyaman di pagi hari, terutama di daerah Solotigo, Karena masih banyak pepohonan yang menghijau sehingga pemandangan di musim kemarau ini tidak gersang-gersang amat.
Pukul 8.30 saya sudah tiba di semarang, tepatnya kurang lebih di dekat Akpol. Jadi boleh dibilang perjalanan pagi hari ini merupakan perjalanan yangs sangat lancer.
Pukul 9.00 (kurang lebih) aku mengisi bensin di jalur antara Semarang-Kendal, beberapa kilometer sebelum memasuki kota Kendal. Ini merupakan pengisian ketiga selama musim mudik dan balik ini. Sebelumnya aku sudah mengisi di Jakarta full tank sebelum balik dan kemudian mengisi Full tank setelah melewati Pekalongan menuju Batang. Sekaligus ini untuk melakukan test berapa banyak konsumsi bensin yang digunakan selama musim mudik lebaran kali ini.
Pukul 10.30 aku berhenti untuk makan siang di Soto Semarang di Jalan Petarukan Batang. Rumah makannya bisa dibilang sangat rame, tidak tahu apakah karena sekarang musim lebaran dimana warung makan sebelahnya tidak buka atau karena memang enak. Mobil datang dan pergi silih berganti. Tetapi apaun alasannya, lumayan Enak soto situ dan sajian pelengkap sotonya bias dibilang cukup komplet. Ada sate ayam basah, sate kerang, sate jeroaan, tahu tempe, telor puyuh, kerupuk dan semua itu disajikan ketika kita melakukan pemesanan dan pesana di antar. Bukan sudah ditempatkan disitu. Ada juga teh poci gulane batu, tapi sayang gula batunya Cuma sedikit.
Setelh berhenti sebentar di sebuah masjid sebelum masuk kota batang, sebelum dhuhur, perjalanan sampai di Masjid berikutnya di kota Brebes sebelum masuk kea rah Cirebon. Kita berhenti berisirahat disitu, kurang lebih pukul 13.30 dan sholat dan tidur sebentar, pukul 14.30 perjalanan di lanjutkan melintas kota cirebon yang lumayan panas.
Ohya satu catatan ketika aku di masjid untuk sholat dhuhur dan ashar di jamak, kok sepetinya mesjid itu angker juga, bukan karena karomah mesjid itu, tetapi karena tulisan yang terpampang di situ “Sandal-Sepatu dan sepeda moator harap di jaga sendiri/” terkesan disitu banyak terjadi pencurian dan memang sih, banyak preman yang menjaga tempat parkit mesjid itu dan mengutip jasa 1000 untuk motor dan untuk mobil aku tidak tahu. Memang banyak hal yang harus dilakukan oleh pemimpinn Islam agar suasana mesjid menjadi penuh wibawa dan memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengunjungnya.
Melewati kota cirebon lumayan lancar, tidak ada titik kemacetan yang terjadi, bahkan pintu di perlintasan masuk jalan tol yang biasanya tempat kemaceatan terjadi nampak okey-okey saja. Dari cirebon kita menuju jalur palimanan-kadipaten untuk selanjtnya menuju ke arah sumedang dan bandung. Aku belum pernah melewati jalur ini sehingga jalur ini aku lalui sekarang. Lumayan lancar dan tidak ada kemaceten. Untuk menghilangkan rasa penat dan capek saya berhenti sebentar di pinggiran sungai Cibingbing untuk sekedar melepaskan lelah dan memulihkan kondisi fisik. Disitu saya minum es kelapa, harganya Rp 5.000,- Aku disitu sekitar pukul 16.45 sore berangkat kembali menuju arah sumedang. Dan sampai di sumedang maghrib dan mencari penginpan. Kita mendapatkan penginapan di hotel kencana untuk melati 1 dan mendapatkan kamar ekonomi seharga Rp 85.000,-. Lumayan jorok kelas ekonomi ini, tapi ya beginilah namanya juga kelas ekonomi. Bayangkan gagang kunci sebelah dalam sudah rompal copot. Dan kalau mau buka pintu harus dilakukan pemasangan gagang supaya as kunci pintu dapat berputar.
Sementara tara kamar mandinya bau dan airnya sangat keruh, dan sisa-sisa sabun dan bungkus sabun semua ditaruh di atas lubang angin. Sehingga menjadikan pemandangan yang tidak indah. Tidakkah punya waktu bagi pengelola hotel ini untuk sekedar membersihkan kamar mandi dari sisa-sisa sabun dan pembungkuskanya dari pada hanya sekedar di taruh di lubang angin. Yang lebih menakjubkan di lubang angin itu adalah adanya kondom bekas yang di taruh disitu. Rupanya hotel ini merupakan hotel mesum juga, mungkin iya apalagi di pinggir jalan besar arah cirebon bandung ini.
Kota Sumaedang sebenarnya merupakan kota yang indah jika dikelola dengan baik, dengan membersihkan alun-alun dari pedagang kaki lima akan menjadiklan alun-alun menjadi tempat yang indahh di hadapan pak bupati, bukan hanya pedagang kaki lima yang mendominasi juga adanya tumpukan sampah yang berada di dekat tugu persembahan bagi pak bupati pertama sumedang KPA Suriatmaja yang banyak sekali sampah bertumpuk disitu sehingga menyebabkan pemandangan menjadi tidak indah. Kota Sumedang boeh dikata hanya sepanjang jalan Prabu Geusan Ulun saja, yang distu sudah mencakup pasar, kantor bupati, alun-alun, masjid agung, kantor polisi dan lain-lain.
Pukul 10.00 aku berangkat mneinggalkan hotel di sumedang untuk melanjutkan perjalanan ke kota bandung. Melewati pegununungan yang dahulu sangat terkenal bahayanya yakni Cadas Pangeran. Pemandangan didaaerah cadas pangeran sebenarnya indah. Dan sekarang cadas pangera sudah dibangun beton-beton pembatas antara jalan dan jurang, sehingga nampak kalau dari kejauhan seperti piringan. Dengan dibangunnya pembatas jalan ini, jalan menjadi lebih aman dan menjadi lebih lebar. Tidak seperti dahulu lagi.
Selepas cadas pangeran di situ ada tempat Wana Wisata, dimana disitu berjejer temapt makan khas Sunda dan dibawahnya dibangun taman, kemarin itu tamannya tidak tampak seperti taman karena gersang. Makan di situ murah juga harganya, tidak beda dengan tempat makan yang lain di sumedang atau bandung. Nasi pakai bakul, Pepes Ikan mas, Oncom dan cabe sayur, harganya Rp 10.000,- sama seperti harga di depok.
Selepas Wanawisata, pkl 11.30 perjalanan dilanjutkan. Terjadi kemacetan yang lumayan panjang ketika meninggalkan wanawisata menuju daerah Unpad-Unwim dan baru normal kembali setelah itu. Mungkin karena jalan sempit dan banyak keluar masuk mobil dari jalan-jalan kecil di kanan kiri jalan, beda dengan antara cadas pangeran yang kanan-kiri jurang. Nah kalau daerah Unpad kanan kiri rumah penduduk.
Perjalanan lurus sampai Ujung bErung dan melalui Sukarno hatta. Aku mampir sebentar di tempat kost lama di Ciganitri untuk silaturahmi dengan yang punya kontrakan jaman dahulu. Bu Haji Halimah, yang punya rumah dan juga Kang Yayat yang rumahnya depan kontrakan ku dulu.
Bu Haji yang dulu kaya raya sekarang sering berkeluh kesah, karena lahan tambak ikan yang menjadi penghidupan bagi dia selama ini sekarang sudah tergerus oleh pembangunan perumahan dan sudah di beli oleh developer. Sehingga praktis kini penghidupan Bu Haji menjadi berkurang. Tidak lupa disitu ada maya yang dulu ketika aku tinggalkan masih kecil dan suka bengong menunggu bapaknya kini sudah kelas 3 SMP dan tidak mengenal aku lagi. Sebenarnya anak-anak bu haji halimah dulu suka berantem dan bertengkar denganku, tetapi ketika sudah pergi mereka pada kangen J.
Selepas Silaturahmi perjalanan di lanjutkan kembali dan sekedar melewati STT Telkom tempat di mana aku menimba ilmu dan melapangkan jalan mendapatkan pekerjaan dahulu. Suasana sepi karena masih pada libur dan kost-kost disekitarnyapun masih juga nampak sepi, mungkin masih pada libur lebaran.
Selepas itu aku ke jalan buah batu melalui sukabirus dan terowongan jalan tol. Dan belok ke arah buah batu dan lanjut sampai ke arah Cimahi-Cianjur-Puncak. Jalanan arah puncak lumayan lancar dan menyenangkan dimana jalan dari cimahi padalarang cipata berkelok-kelok walaupun halus, tetapi tetap hati-hati.

Mudik Via Jalur Alternatif


10 Oktober selepas piket malam di kebon sirih 12 lt 12, Kembali kita menggunakan jalur kendaraan sepeda motor sebagai sarana transportasi untuk mudik lebaran tahun ini. Semula saya sudah merencanakan dengan menggunakan motor V.IXION dari Yamaha sekaligus untuk test drive ke klaten, tetapi apa daya harus indent sampai masa yang tidak ditentukan sehingga rencana batal.
Rencana awal adalah kita akan menggunakan jalur Cikampek- Purwakarta -Subang -Palimanan -Cirebon sebagai jalur alternatif dari Cikampek-Indramayu-Cirebon.
Jalur alternatif kedua yang akan kita lewati adalah Tegal-Purwokerto-Banyumas-Purworejo -Jogja-Klaten sebagai jalur alternatif Pantura-Semarang-Solotigo-Boyolali-Klaten.
pkl 5.15 langsung berangkat keluar kantor dan melewati pulo gadung, tembus-tembus di Bekasi di Mitra keluarga Bekasi Timur. Disini kita dihadang oleh kemcetan panjang yang luar biasa.
Lolos dari jebakan kemcetan kita terus lurus menyusuri bantaran sungai Kalimalang sampai ujung, baru steleh itu belok kiri. sambil mencoba melewati jalur yang tidak biasa. Lewat jalur alternative melalui Purwakarta-subang-kadipaten-cirebon.
Pkl. 7.45 kita smapai pertigaan Cikampek, kalao ke kanan ke arah pintu jalan tol Cikampek-Jakarta, kalau kiri ke arah Cirebon. Kita ambil jalur ke kanan. Jalur ini belum pernah aku lewati, selain kalau naik bis dari jawa lewat jalur alternatif. Pada saat masuk ke arah purwakarta dari cikampek, jalan bener nikmat, jalan luas, jalan halus, mungkin karena sisa-sisa jalan kebesaran bandung jakarta, sehingga kondisi jalan memang sangat bagus. Sesampai ke simpang menuju Subang jalan juga sangat bagus sampai kemudian di subang. Arus mudik memang kelihatan sangat sepi. Kondisi jalan juga naik-turun. Dan ini sangat cocok bagi anda yang suka bertualang dan menikmati tikungan-tikungan jalan. Tapi hati-hati kalau tiba-tiba ada mobil nongol di depan kita.
Pkl 9.aa, Sampai kemudian kita sampai ke perkebunan PTPN lupa namanya, yang mengelola kebon karet. Disini memang suasana sangat nyaman dan jalan justru membuat ngantuk. Istirahat sebentar di kebon karet tersebut sambil makan pop mie, maklum sepanjang perjalanan perut terasa lapar karena hawa dingin daerah subang. Pkl 9.45 kita berangkat lagi.
10.30 istirahat lagi di Islamic centre Subang
Tetapi sesampai di kalijati ke arah cijelang, jalan minta ampun bergelombang dan pemandangan juga sangat tandus. Disana –sini nampak rumput-rumput kering dan bekas lahan yang dibakar. Sehingga suasana nampak terasa panas.
Kemudian setelah pukul 12.30 menit, saya sampai ke daerah Palimanan dan beristirahat disebuah masjid di pinggir kiri jalan. Dan tidur sampai pkl 13.30 sambil menunggu matahari sudah tergelincir sehingga tidak terasa panas-panasnya.
Pkl. 14.00, saya sudah sampai di Ciarebon dan kembali beristirahat dengan mampir makan di empal gentong di pinggir jalan. Lokasi saya makan sudah lumyan jauh di luar kota cirebon, tetapi daerahnya aku tidak hapal. Baru pertama kali saya merasakan salah satu masakan khas orang cirebon ini. Lumayan juga rasanya mirip dengan opor jeroan sapi ( atau memang itu intinya ya....).
Selepas makan empal gentong perjalanan dilanjutkan kembali dan tidak seberapa lama kita langsung dihadang oleh kemacetan di daerah cirebon sampai ke daerah Brebes, lumayan juga panjangnya kemacetan tersebut, tetapi lumayan walaupun macet kita masih bisa bergerak di sela-sela badan kendaraan-kendaraan besar.
Sesampai di pekalongan pukul 18.00 dan akhirnya aku putuskan untuk beristirahat di tempat penginapan di jalan hayamwuruk dan hotelnyapun bernama hotel hayam wuruk. Di hotel itu ada beberapa tarif kamar, diantaranya untuk standard Rp 85.000, ada kipas angin dan TV. Kamar mandi air biasa, dan keadaan kamarnya kurang bagus, banyak terdapat sarang laba-laba di atas kamar mandi, pertanda sudah lama tidak dilakukan pengecekan kebersihan.
Di dekat penginapan ada Masjid Agung Pekalongan, dan ditempat itiulah saya mencari makan malam dan aku mendapatkan lontong opor ayam kampung. Tempatnya di sisi-sisi alun-alun. Banyak penjual makanan di sana dan kita bisa pilih sendiri yang mana kita suka. Lumayan enak juga lontong opor-nya, dan harganyapun tidak mahal, untuk 1 porsi berikut teh manis manis hanya seharga Rp 8.000 saja.
Pagi aharinya saya sambil mencari-cari sarapan yang ada di pekaloangan kita berjalan-jalan dengan menggunakan sepeda motor. Lumayan lama juga kita mencari sebelum pada akhirnya terpaksa menyerah dan mendapatkan asal sarapan di pinggir jalan dengan menu sepertinya sisa makanan yang tidak habis tadi malam, dan harganyapun tidak mahal, Cuma Rp 6.500,00 berikut teh manis juga. Tidak apa-apa yang penting perut tidak kosong dalam perjalan pulang menuju klaten. Apalagi saatini adalah akhir-akhir bulan puasa, jadi sangat di maklumi jika memang tidak ada persediaan untukl sarapan pagi dari warga pekalongan. Tetapi sebenarnya banyak juga yang buka untuk sarapan pagi bagi mereka yang tidak berpuasa, khususnya yang dijual oleh pedagang dari etnis cina yangbiasanya memang bukan beragama islam.
Pukul 09.00 perjalanan pagi dilanjuutkan melewati Batang dan melewati alas roban yang sekarang tidak seangker jaman dahulu yang terkenal rawan, tetapi tidak tahu juga apakah akalau malam hari sekarang masih sangat angker seperti jaman dahulu yang jelas suasana di pasar roban sekarang jauh lebih nyaman.
Sampai kemudian ada jalan pertigaan setelah alas roban ada jalan alternatif untuk menuju Semarang melalui Weleri, nah saya melewati jalur itu karena saya belum pernah melalui jalan tersebut. Jalan turunnya lumayan curam sehingga kita harus berhati-hati untuk melalui jalur altenatid ini pada awal-awalanya, apalagi jalan dibuat dari beton cor yang sudah mulai licin disana-sini tergerus oleh perputaran roda berputar. Jadi disini harus waspada, jangan menyepelekan kondisi jalan. Setelah mellalui jalan yang berliku-liku kita akan emndapat sebuah kota kecamatan yang lumayan ramai, Weleri, dan setelah itu ada pertigaan menuju Parakan dan Temannggung.

Jumat, 05 Oktober 2007

Aduhhhh... Laparrr

ADuh Lapar... tadi malam sahur jam 1.30. sehabis pulang mengikuti Ihya Qiyamullail di ICC Al-Huda. walau pun tidak selesai. karena pembacaan Jusyan Kabir yg teramat panjang dan melelahkan. apalagi pagi harinya harus masuk kerja jam 8.00 tettt.
jadnya ya sdh pulang aja dan sampai depok ada nasi uduk betawi yang buku di depan kounter poto (kalo siang) makan disitu sekalian sahur.
langsungtidur dan terlambat bangun....

Kamis, 04 Oktober 2007

test

testt

Ketemu BRTI



Dengar pendapat antara SEKAR Telkom dan BRTI, kemarin berlangsung di tempat Dirjen Parpostel yang juga ketua BRTI, Basuki Iskandar, Medan Merdeka Barat.
Suasana berlangsung meriah dengan dihadiri 2 kubu yang saling berseteru yakni BRTI sebagai pengatur regulator dari pemerintah dengan tim-nya yang hadir saat itu, seperti pak basuki sendiri, Heri Nugroho, Heru Sutadi, Bu Koesmariati Sugondo ( dulu Dirut Telkomsel ), Bambang , Kamilov Sagala ( cukup lengkaplah) dan beberapa orang yang aku lupa namanya karena gak pernah buka suara.
Sedangkan SEKAR terdiri dari segerombolan orang dari berbagai daerah baik itu tingkat DPP bandung seperti Bambang Budiono, Wisnu AW, Amir F, IPung, Nuryadin Salam (makasar), Budi Pras ( Surabaya), Dedi dari Balik papan, didukung oleh anggota tim dari seluruh Indonesia terutama jakarta.
Pokoknya seru banget... yang jelas dari Telkom keberatan Jika aturan di kode akses di terapkan apalagi dengan hanya kompensasi 478 M seperti yang dirilis di media2. TEtapi hal ini dibantah oleh Heri Nugroho, bahwa BRTI telah memberikan hal yang lebih kepada Telkom, bukan hanya uang saja, tetapi frekuensi radio berapa Hz, yang akhirnya di berikan kepada Telkomsel dan akses SLI 007 utk bersaing dengan Indosat.
Sementara Nuryadin salam, menyampaikan argumen dari sisi Customer based, dimana Telkom sebagai Incumbent telah bertahun-tahun membangun dasar pelanggan dengan "berdarah-darah" aplagi untuk daerah di Luar jawa, sementara kompetitor hanya langsung memanfaatkan customer based itu hanya dengan membangun jaringan antar kota kalau perlu dan setelah itu menggunakan layanan SLJJ, uenak sekali.
Bahwa Telkom tidak atakut bersaing dan bukan anti kompetisi, tetapi jangan membunuh Telkom dengan regulasi yang mencekik Telkom. kalau kompetisi dan akhirnya tidak sanggup dan mati ya itu salah Telkom, tetapi kalau dengan regulasi dan akhirnya Telkom tidak bisa bergerak apa-apa, maka kami akan melawan.
Pokoknya masih banyak dech ... sampai aku sendiri lupa apa aja yang dibicarakan karena aku juga ngantuk dan pingin kencinggggg.........

Mana SEKARwati

"Mana SEKARwati ?"
Pertanyaan itu dilontarkan oleh pak Basuki Iskandar, waktu kita bertatap muka dgn BRTI membahas masalah kode akses SLJJ, antara Ditjen Postel yang juga ketua BRTI dengan SEKAR Telkom. waktu itu pak basuki memberi sambutan dan mengatakan, "Bapak-bapak dan ....... " mana Wanitanya kok gak ada ?"
"Mana SEKARwati ? " Pak Basuki mengulangi pertanyaan, setelah diberitahu Istilah SEKAR untuk anggota Wanita. Ditambahkannya, "kalau ada wanitanya khan tidak gersang dan ada kesejukan ". Wanita itu ibarat batu es yang mendinginkan suasana.
Di Dunia politik, termasuk dalam hal ini SErikat Karyawan, elemen wanita merupakan elemen yang minoritas dan hanya sebagai pelengkap dari organisiasi saja.. Peran yang dimainkan oleh wanita memang ada, tetapi menyangkut hal-hal kurang penting dalam dalam artian tidak mampu mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh organisasi.
Bahkan sebagai penguruspun wanita hanya sebagai pelengkap penderita, bukan mengurus masalah organisasi, tetapi lebih banyak mengurus masalah konsumsi bila hajatan rapat kerja berlaku.
Sebenarnya dengan banyaknya pegawai wanita yang ada pada perusahaan peran wanita sangat diperlukan, agar keputusan kebijakan dalam perusahaan tidak gender sentris dalam hal ini laki-laki sentris. Peran wanita dalam meperjuangkan kepentingannya sangat di perlukan sekali. terutama menyangkut masalah kesetaraan berkarier, kesehatan reproduksi, dan kenyamanan kerja (misalnya menyangkut masalah Bullying, pelecehan seksual dll ).
Walaupun dalam hal ini lelaki juga bisa menjadi wakil wanita dalam mengambil keputusan, tetapi perhatiannya tentu saja berbeda. Karena Lelaki tidak mengalami perasaan langsung sebagai wanita dalam interaksinya dalam masyarakat sosial.
Maka peran wanita dalam politik dalam hal ini pengambilan keputusan harus didorong maju ke depan. Ingat perubahan bukanlah sebuah hadiah tetapi sebuah hal yang menuntut perjuangan dan diperjuangkan.
Coba saja perhatikan di stasiun-2 kereta. Kenapa di beberapa lokasi wanita begitu sulit untuk masuk ke dalam kereta. Lebih mudah lelaki. karena tinggal melangkah atau bergelayutan. Nah keadaan yang seperti inilah yang sebenarnya diperlukan peran wanita dalam mendesain sebuah kepentingan yang berdampak luas kepada masyarakat.
kalau semua desain-desain, baik desain sosial maupun arsitektur bangunan dikerjakan oleh lelaki, maka pola pikir lelaki masuk dalam desain itu, sehingga tidak salah jika hasil akhir desain hanya cocok untuk lelaki dan tidak cocok untuk wanita. contohnya ya kondisi stasiun dan kereta itu.
Tetapi yang jelas, emasipasi wanita dalam dunia politik sudah terbuka lebar-lebar, 30% disediakan untuk alokasi caleg untuk berebut menjadi anggota Dewan yang terhormat. Tetapi kalau gak mau......... ya sudah...